Waspada Musim Hujan, Pemkab Kediri Petakan 3 Ancaman Bencana: Longsor, Banjir, dan Puting Beliung
KEDIRI– Pemerintah Kabupaten Kediri bersama TNI-Polri memetakan sejumlah kecamatan yang berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi menjelang puncak musim hujan 2026. Tiga ancaman utama menjadi fokus antisipasi: tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung disertai pohon tumbang.
Pemetaan kerawanan tersebut disampaikan dalam Apel Kesiapsiagaan Tanggap Bencana 2026 yang digelar di Sempu Exotic Park, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Rabu (4/11/2026).
Apel dipimpin Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa dan diikuti jajaran Forkopimda, Polres Kediri, Kodim 0809 Kediri, BPBD, Satpol PP, Tagana, hingga relawan.
Tiga Klaster Rawan Bencana di Kediri
Berdasarkan pemetaan, potensi tanah longsor terkonsentrasi di wilayah lereng Gunung Kelud dan Wilis. Lima kecamatan masuk kategori rawan tinggi yakni Kecamatan Ngancar, Plosoklaten, Puncu, Kepung, dan Kandangan.
Sementara potensi banjir dipetakan di wilayah dataran rendah dan bantaran sungai. Empat kecamatan yang menjadi atensi adalah Plosoklaten, Pare, Badas, dan Kunjang.
Adapun ancaman angin puting beliung dan pohon tumbang tersebar di Kecamatan Kunjang, Purwosari, Plemahan, dan Papar.
Wakil Bupati Kediri Dewi Maria Ulfa menegaskan apel kesiapsiagaan ini untuk memastikan semua personel memahami tugas dan tanggung jawab saat bencana terjadi.
“Forkopimda Kabupaten Kediri tentunya siap membackup apabila terjadi bencana. Kami juga sudah mempersiapkan personel, sarana, dan seluruh elemen terkait,” ujar Dewi.
Menurutnya, kesiapan tidak hanya soal jumlah personel, tetapi juga kemampuan teknis di lapangan, mulai dari prosedur evakuasi, prioritas penyelamatan kelompok rentan, hingga penyiapan titik kumpul dan lokasi pengungsian yang aman.
Polres Kediri Siagakan 500 Personel dan Posko 24 Jam
Kapolres Kediri AKBP Muhammad Wahyudin Latif menyatakan pihaknya menyiagakan sekitar 500 personel untuk mendukung penanganan bencana di Kabupaten Kediri.
Ratusan personel tersebut akan bersinergi dengan BPBD, Kodim 0809, Satpol PP, Tagana, dan relawan di lapangan.
“Kami sudah menyiapkan posko-posko di wilayah rawan, baik dari Pemkab, BPBD, Kodim, maupun Polres. Semuanya disiagakan selama 24 jam,” kata Latif.
Posko siaga 24 jam tersebut berfungsi sebagai pusat pelaporan masyarakat sekaligus pusat koordinasi lintas instansi saat terjadi bencana.
Latif menambahkan, penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi. Pemkab juga menyiapkan fase pemulihan, termasuk bantuan kemanusiaan dan pendampingan psikologis atau trauma healing bagi warga terdampak.
Imbauan untuk Warga
Di sisi lain, Wakil Bupati Dewi Maria Ulfa mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan yang disertai angin kencang.
Warga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah saat cuaca buruk, serta menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan.
“Mulai dari keluarga, lingkungan RT, sampai sungai-sungai di sekitar kita perlu dijaga kebersihannya. Ini harus diantisipasi sejak dini,” ujarnya.
Ia meminta warga rutin membersihkan sampah di selokan, saluran air, dan sungai agar tidak menghambat aliran air yang dapat memicu banjir, serta mencegah berkembang biaknya nyamuk penyebab demam berdarah.
Dengan kesiapsiagaan lintas instansi dan keterlibatan aktif masyarakat, Pemkab Kediri berharap risiko bencana selama musim penghujan dapat ditekan dan penanganan dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan terkoordinasi.(Dan/Ali)







